Bagaimana Caranya Media Sosial Twitter Mempengaruhi Keberadaan Opini Publik dan Preferensi Politik

April 24, 2022 | 0 Views
dp

Dapodikta.com – Peran media sosial online sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kampanye politik di masa pandemi. Sebelum pandemi, kegiatan bermedia sosial juga cukup signifikan mempengaruhi opini publik. Sebab hampir separuh lebih penduduk Indonesia memiliki akun media sosial. Sehingga cuitan dan komentar publik banyak yang berlayang di dunia Maya.

Sebagai platform, media sosial memiliki dua fungsi umum. Menurut Twitter Links Between Politicants and Journalists yang ditulis dalam Journal Practice (2012, Vol. 6) yang dikutip oleh tirto.id, bahwa Peter Vermeij menyebutkan media sosial berpotensi dua hal. Pertama sebagai penyebar informasi dan kedua sebagai pembentuk hubungan. Opini publik pada selanjutnya masuk pada dua hal tersebut. Termasuk media sosial Twitter, memberi pengaruh yang cukup besar dalam dunia politik. Seperti ulasan berikut.

Twitter jadi Rujukan Trending Topik

Platform media sosial yang lebih santer berpotensi menimbulkan opini publik ialah Twitter dan Facebook. Ini berdasarkan informasi yang diberikan oleh laman tirto.id. Untuk Twitter sendiri sebagai perspektif pertama, yakni sebagai penyebar informasi. Sedangkan Facebook sebagai perspektif kedua sebagai pembentuk hubungan.

Alasan mengapa perspektif pertama dimiliki oleh Twitter karena sebagian dari trending topik Twitter menjadi headline CNN. Headline sendiri merupakan judul besar yang dapat menjadi sorotan utama pembacaan publik. Selain itu, headline menjadi satu kunci keberhasilan suatu konten. Oleh karena ketika opini publik sedang trending, maka akan menjadi pembahasan yang penting dan bisa memberikan pengaruh.

Untuk CNN sendiri berdasarkan informasi dari laporan yang dikeluarkan oleh Routers Institut for The Study of Journalism dan Universitas Oxford tahun 2021, CNN Indonesia merupakan media paling dipercaya masyarakat sebesar skor kepercayaan 69 persen. Angka ini menunjukkan lebih dari separuh informasi yang disajikan dipercaya dan headline yang diberikan memberikan pengaruh.

Menjadi Corong Berita Konvensional

Selain sebagai rujukan trending topik, Twitter yang mulanya hanya sebuah platform bertukar pesan dengan berbatas karakter, dapat menjadi corong berita.

Karena platform ini, telah berganti sekedar mengirimkan pesan, kini dapat menampilkan gambar, video dan berbagai informasi. Dengan karakter yang bertambah. Inilah membuat Twitter dimanfaatkan oleh partai politik dalam meramaikan kegiatan politik.

Opini publik tergiring dari cuitan pengguna Twitter. Cuitan yang singkat berbatas karakter pesan ini membuat Twitter lebih mudah berbalas komentar. Komentar dibalas komentar kemudian memancing opini yang lain, membuat bahasan menjadi lebih banyak. Opini juga banyak. Berbeda dengan platform media sosial lainnya yang cenderung memiliki ruang karakter banyak. Orang akan lebih banyak membaca daripada sering berkomentar tulis.

Hal tersebut menjadi kelebihan Twitter dimana balas komentar lebih cepat sebagaimana bahasa lisan. Keefektifan berbahasa memunculkan opini publik mudah dibangun di media ini.

Twitter Mampu Mengatur Agenda Jurnalis

Penjelasan yang diberikan oleh John Parmelee, yang menulis Politic and  The Twitter Revolution (2011) menyatakan bahwa Twitter mampu mengatur agenda apa yang akan dilakukan oleh Jurnalistik.

Pembahasan sebagaimana trending topik sebelumnya, contohnya CNN mengambil trending di Twitter. Ini menunjukkan bahwa opini publik ini saling berkaitan untuk memberikan pembahasan persoalan yang sedang berkembang.

Di satu sisi, kegiatan saling tumpang tindih ini seolah menguatkan opini satu sama lain. Kegiatan klarifikasi berbagai sumber dari Jurnalistik kemudian ke media sosial, atau sebaliknya mampu menguatkan kepercayaan publik terhadap informasi yang disajikan.

Namun hal ini juga menjadi bagian awal munculnya hoaks oleh pihak yang memiliki kepentingan lain dalam bidang politik. Opini publik yang lain pun bermunculan. Saling menanggapi dan kemudian menjadi trending topik kembali. Sehingga Twitter dalam hal ini tidak sekedar sebagai penyebar informasi tetapi juga mampu menghadirkan informasi baru. Namun perlu diwaspadai.

Twitter Merupakan Media yang Efektif sekaligus Murah

Karena efektifnya dalam menyebarkan informasi, di samping dengan memberikan persepsi atas komentar yang timbul dan tumpang tindih. Pada selanjutnya Twitter menjadi ladang bagi partai politik untuk melancarkan strategi pemasaran.

Strategi pemasaran yang mulanya dilakukan secara tradisional dalam ruang terbuka, lebih banyak menghabiskan biaya. Selain itu ketercapaian dan ketersampaian informasi untuk membentuk opini publik secara langsung dirasa kurang efektif apalagi jika harus menjangkau para calon pemilih generasi milenial.

Selain itu, pemasaran secara tradisional membutuhkan banyak waktu untuk melakukan interaksi. Bertemu muka dulu, baru terjadi komunikasi. Atau harus menggunakan alat komunikasi dulu baru bisa menyampaikan visi misi. Di media sosial Twitter hal tersebut tidak perlu lagi repot dilakukan. Mengingat twetter sebagai penghubung antara sesama pengguna mampu menghemat biaya dan waktu untuk sekedar berdiskusi dan bertukar pendapat.

Apabila di aplikasi digunakan untuk kepentingan umum, maka gethok tular setelah menggunakan media sosial mampu diterapkan di masyarakat luar media.

Menjadi Tempat Pemrediksi Hasil Pemilu

Karana kemasan Twitter yang sederhana dan mampu digunakan oleh siapa saja, Twitter dapat digunakan sebagai bahan analisis pemrediksi hasil survei.

Analisis ini nanti akan muncul yang namanya elektabilitas. Di mana elektabilitas memberikan gambaran bahwa masyarakat memiliki kecenderungan kepada calon kandidat tertentu dan partai politik pengusung tertentu. Hal ini juga bergantung pada bagaimana perubahan informasi dan opini publik yang ada pada Twitter. Sifatnya lebih masif daripada sekedar survei dan perhitungan langsung saat pemilu.

Hal-hal yang berkaitan dengan Twitter dan bagaimana informasi yang berkembang di dalamnya, utamanya berkaitan dengan politik pada hakikatnya kembali kepada bagaimana pergerakan masyarakat media sosial. Termasuk ketika mereka memperlakukan masalah dan mengomentarinya. Jangan sampai opini publik yang kurang sesuai justru menyulut perselisihan yang tentu bertentangan dengan hukum.

Posted in

RELATED POST